Berita Pasuruan  – Ketupat merupakan salah satu makanan khas saat Lebaran. Di setiap rumah ketupat selalu hadir menghiasi meja makan. Namun, ketupat mempunyai makna filosofi tersendiri pada bungkusnya. Anyaman-anyaman pada kulit ketupat tersebut mencerminkan banyaknya kesalahan pada diri manusia. Setelah dibelah dua nampaklah isi ketupat berwarna putih. Itu menggambarkan kebersihan dan kesucian hati manusia setelah menahan nafsu dengan berpuasa sebulan penuh.

Sejarahwan Betawi, Yahya Andi Saputra menceritakan bahwa awal mula adanya ketupat tersebut berasal dari pesisir pantai. Menurutnya, saat itu masyarakat Betawi banyak yang tinggal di pesisir pantai pelabuhan Kelapa. Di tempat tersebut terdapat pohon kelapa sangat subur dan banyak. Untuk menghormati para leluhur mereka membuat kuliner dan berbagai macam-macam sesajian.

“Zaman dulu, karena kita ini khususnya masyarakat Betawi tinggal di kawasan pesisir pelabuhan kelapa, otomatis banyak pohon kelapa. Melihat pohon kelapa sebagai sumber kuliner, ada yang membuatnya menjadi ketupat, lepet dan lain-lain,” ungkap Yahya

Dia pun menerangkan bahwa ketupat merupakan simbol keutamaan. Pada anyaman ketupat tersebut menyimpan sesuatu berharga yaitu sumber kehidupan. Karena terdapat beras yang telah di kukus. Maka pada zaman sebelum Islam masuk ke nusantara, masyarakat terdahulu sering membuat persembahan untuk sebuah pesta panen atas rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Ketupat menjadi simbol keutamaan, pada anyaman ketupat yang bersusun itu di dalamnya menyimpan sesuatu yang berharga yaitu sumber kehidupan. Di zaman sebelum Islam datang ke nusantara, untuk menghormati para dewa-dewi seperti Dewi Sri, masyarakat sering mengadakan pesta panen. Salah satu persembahannya yaitu ketupat, kue Jongkong yang berasal dari parutan kelapa, dan lain-lain,” terangnya.

Lebih lanjut dia menceritakan, pada zaman Wali Songo khususnya Sunan Kalijaga ketupat digunakan sebagai media agar dapat mendekatkan diri dengan rakyat sekitar. Selain itu supaya dakwah yang sedang dijalankannya tersebut dapat diterima oleh masyarakat.

“Pada zaman Wali Songo dulu, Sunan Kalijaga memilih makanan ketupat sebagai salah satu media untuk menyampaikan dakwahnya. Ada juga dengan menggunakan media wayang seperti pandawa lima, supaya tidak ada jarak dalam dakwahnya. Unsur-unsur budaya lama tersebut di gunakan untuk mendekatkan diri kepada rakyat dan memanfaatkan sebagai bahan dakwah,” imbuh Yahya.

Menurutnya dipilihnya ketupat pada Hari Raya Idul Fitri, karena makanan tersebut dapat tahan hingga tiga hari berturut-turut. Karena pada Hari Raya, orang-orang akan disibukkan dengan saling bersilaturahmi dan jarang untuk memasak.

“Kalau zaman dulu ketupat disimpan dua tiga hari masih kuat. Karena kalau Lebaran kebanyakan orang-orang tidak masak, dan teknik membuat ketupat paling gampang, serta bahan-bahannya juga terjangkau,” tutupnya

LEAVE A REPLY