TV Samsung berteknologi layar QLED.

Dunia kembali digemparkan dengan bocoran-bocoran informasi terbaru dari WikiLeaks, yang kali ini mengumumkan perangkat retas rahasia dari Badan Intelijen AS, CIA. Perangkat retas itu meliputi televisi pintar hingga ponsel berbasis iOS, Android, serta komputer berbasis Windows, macOS, dan Linux.

Selasa (7/3), WikiLeaks mengunggah dokumen-dokumen yang berisi informasi tersebut dengan judul ‘Vault 7’. Sebanyak 8.761 dokumen ini diambil dari jaringan markas CIA di Langley, Virginia, dan berpotensi mengungkapkan bagaimana teknik-teknik badan tersebut dalam meretas berbagai sistem di dunia.

Kabar ini terdengar cukup mengerikan, jika membayangkan perangkat teknologi yang biasa kita gunakan ternyata dapat diretas kapan saja oleh badan intelijen sekelas CIA. Apalagi, CIA juga disebut bisa meretas TV pintar Samsung dan merekam suara melalui perangkat tersebut.

Menurut dokumen dengan kode ‘Weeping Angel’, televisi pintar Samsung dapat dieksploitasi oleh CIA, di mana perangkat tersebut dapat diubah fungsinya untuk merekam percakapan dalam ruangan dan mengirimnya ke server rahasia CIA.

Bahkan, bukan hanya sebagai perekam suara, alat peretas CIA ini juga bisa mendapatkan informasi-informasi seputar browser history dan data rahasia lain yang terdapat di dalam perangkat itu.

Selain TV pintar, WikiLeaks juga menyebut CIA bisa meretas ponsel-ponsel dengan sistem operasi Android dan iOS, juga komputer berbasis Windows dan Linux.

Hal ini membuat informasi dan data-data yang berada dalam perangkat tersebut bisa dilacak dan diambil oleh CIA, termasuk pesan-pesan yang diterima dan dikirim di aplikasi pesan seperti WhatsApp dan Telegram.

Padahal dua aplikasi pesan tersebut memiliki sistem enkripsi yang menjamin keamanan dalam bertukar pesan, tapi ternyata CIA masih memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menerobos sistem tersebut. Menurut eks anggota CIA dan ahli komputer, Edward Snowden, peretasan itu tidak dilakukan terhadap aplikasinya, melainkan melalui sistem operasinya.

Sementara untuk meretas perangkatnya, CIA tidak menggunakan satu metode saja, melainkan kombinasi dari malware, virus trojan, dan celah-celah dari sistemnya. Snowden berpendapat, peretasan CIA ini dapat berbahaya karena CIA membuka sebuah celah keamanan dalam sistem yang diretas sehingga membuat hacker juga dapat menggunakan celah tersebut.

Dokumen terbaru dari WikiLeaks ini menunjukkan betapa superiornya CIA dalam hal peretasan dan penyadapan dengan memanfaatkan perangkat teknologi. Jika benar, maka semua produk teknologi yang telah disebut di atas masih menjadi jangkauan CIA dalam melahap informasi dan memata-matai.

LEAVE A REPLY