Berita Pasuruan – Bupati Pasuruan HM Irsyad Yusuf mengatakan Kabupaten Pasuruan memiliki kekayaan air yang melimpah karena dikelilingi pegunungan. Namun, ia menegaskan kekayaan air tersebut akan habis jika tak dijaga dengan serius.

“Kabupaten Pasuruan ini memiliki potensi air yang melimpah. Karena itu banyak industri pengolahan air (pabrik air minum dalam kemasan). Namun selain memiliki potensi air yang melimpah, air juga menjadi permasalahan seperti banjir yang rutin datang setiap tahunnya,” kata Irsyad Yusuf atau Gus Irsyad di depan puluhan peserta sarasehan dan peringatan Hari Air se-Dunia di Pendopo Nyawiji Ngesthi Wenganing Gusti, Kamis (6/4/2017).

Dalam peringatan hari air tersebut juga dilakukan deklarasi penyelamatan sumber daya air, terutama sumber air Umbulan di Kecamatan Winongan yang ditetapkan pemerintah sebagai salah satu proyek strategis nasional yakni Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) Umbulan.

“Menjaga air ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, industri sampai pegiat lingkungan dan masyarakat juga harus turut serta berbagi peran untuk kelangsungan ekosistem air agar tidak habis. Upaya penyelamatan air harus dilakukan dengan serius dan berkesinambungan,” tandasnya.

Haris Miftahul Fajar, Peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, yang hadir dalam peringatan tersebut mengatakan menurunnya potensi air di Kabupaten Pasuruan termasuk Umbulan karena banyak ilegal drilling atau pengeboran air yang tidak berizin dan mengambil air tanah secara terus menurus dan akhirnya justru tidak tepat sasaran.

“Perlu dilakukan pengelolaan air yang baik. Ini lantaran jika tidak dijaga, maka air tanah atau mata air di Umbulan bisa makin tipis,” katanya.

Sementara Gunawan Wibisono, Hidrolog dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang, menyampaikan bahwa penurunan debit Umbulan, selain kerusakan lingkungan, juga disebabkan pemanfaatan air tanah yang berlebihan.

“Banyaknya artesis liar yang mencapai ratusan, di lima kecamatan sekitar Umbulan, juga menjadi sebab turunnya debit Umbulan,” kata Gunawan.

Bahkan dalam penelitiannya, debit mata air Umbulan sudah berkurang jauh sejak 30 tahun terakhir. Jika tahun 90-an, debit air di Umbulan masih 6000 liter/detik, saat ini hanya pada kisaran 3.200 liter/detik. Padahal Umbulan ditetapkan pemerintah sebagai proyek Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) Nasional, untuk distribusikan ke lima daerah di Jatim, dengan kebutuhan 4.000 liter/detik.

Pegiat Forum Pemerhati Air Kabupaten Pasuruan, Abdus Syukur, mengatakan pemerintah terkesan setengah hati dalam penyelamatan sumber daya air. Kebijakan pemerintah dalam pelestarian lingkungan tak terintegrasi secara utuh dan tumpang tindih.

“Pelestarian sumber air tidak terintegarsi dengan kebijakan lain terkait lingkungan. Terkesan setengah hati, kurang total dan membuat debit sumber-sumber air menurun. Saya ambil contoh terkait penyelamatan sumber air Umbulan, Bupati Pasuruan menolak mengeluarkan rekomendasi tambang di sekitar sumber air Umbulan, tapi pemerintah di atasnya memaksa mengeluarkan izin,” tandasnya.

Menurut Syukur, getolnya Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggalakkan reboisasi, tak dibarengi institusi terkait lainnya. Bahkan Perhutani, kata dia, terus melakukan penebangan pohon dengan alasan sebagai hutan produksi, sebagaimana terjadi di Pegunungan Bromo yang menjadi daerah tangkapan air Umbulan.

“Penyelamatan lingkungan harus terintegrasi dengan melibatkan semua pihak dan bukan sebatas pada seremonial semata,” tandasnya.

LEAVE A REPLY