Suku Tengger merupakan salah satu suku yang masih memegang teguh adat istiadatnya yang berlatar belakang pada suatu cerita legenda. Suku Tengger adalah suku yang menetap di lereng Gunung Bromo. Tengger berasal dari nama Joko Seger dan Roro Anteng dimana nama itu dari kisah yang terdapat tulisan Roro Anteng dan Joko Seger di Tanah Hila – Hila. Kedua nama ini bukan hanya sekedar nama, melainkan mempunyai maksud untuk anak cucu Tengger dan seluruh jagad raya.

tengger

Sekitar tahun 851 Saka atau sekitar abad ke-16, terjadi beberapa konflik di Kerajaan Majapahit, antara lain keadaan politik yang tidak menentu dan juga terjadi perebutan kekuasaan. Untuk menanggulangi adanya konflik yang semakin bertambah, penduduk Majapahit menghindari agama baru yang akan masuk. Kemudian mereka pergi ke Istana Agung Gunung Bromo yang pada saat itu merupakan Tanah Hila – Hila atau Tanah Suci dan menetap disana.

Istilah “Anteng” pada Roro Anteng diambil dari bahasa Jawa yang berarti tenang, kokoh, dan tentram. Sedangkan Seger” dalam Joko Seger berarti segar, subur, dan makmur. Nama Tengger sendiri dibentuk dari kedua nama tersebut, yaitu “teng” dan “ger”. Bila nama ini diartikan lebih jauh mempunyai makna yang mendasar, pedoman, dan sebagai ciri khas Tengger yaituTengering budi kang luhur yang tidak jauh dari arti walandit itu sendiri. Adapun upacara Kasodo dimana dikisahkan ketika Joko Seger dan Roro Anteng menikah, mereka lama tak mempunyai anak. Akhirnya Joko Seger berdoa pada Dewa, bila dikaruniai anak, dia bersedia mengorbankan salah satu anaknya. Doa Joko Seger ternyata didengarkan, mereka pun akhirnya dikaruniai beberapa anak.

Inilah 25 nama anak dari Joko Seger dan Roro Anteng:

  1.  Tumenggung Kliwung (Gunung Ringgit)
  2. Sinta Wiji (Gunung Ranten)
  3. Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
  4. Ki Kawit (Sumber Semanik)
  5. Jiting Jinah (Gunung Jemahan)
  6. Ical
  7. Prabu Siwah (Gunung Lingga)
  8. Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gender)
  9. Tunggul Wulung (Cemara Lawang)
  10. Tumenggung Klinter
  11. Raden Bagus Waris (Watu Balang)
  12. Kaki Dukun (Watu Wungkuk)
  13. Ki Pranoto (Sanggar Poten)
  14. Nini Perniti (Mbajangan)
  15. Tunggul Ametung (Tunggu’an)
  16. Raden Mesigit (Gunung Batok)
  17. Puspo Ki Gentong (Widodaren)
  18. Kaki Teku Nini Teku (Guyangan)
  19. Ki Dadung Awuk
  20. Ki Dumeling (Pusung Lingker)
  21. Ki Sindu Joyo (Wanangkara)
  22. Raden Sapu Jagad (Pudak Lembu)
  23. Ki Jenggot (Gunung Rujak)
  24. Ki Demang Diningrat (Gunung Semeru)
  25. Kusuma (Kawah Gunung Bromo)

Setelah anak – anak mereka tumbuh dewasa, Joko Seger melupakan janjinya. Ketika sedang tertidur, dia mendapat bisikan agar memenuhi janjinya untuk mengorbankan salah satu anaknya. Lalu, hal itu disampaikan kepada anak-anaknya. Joko Seger sebenarnya tidak rela mengorbankan anaknya, namun bila janji tersebut tidak dipenuhi, akan terjadi bencana yang melanda dusun mereka. Akhirnya, salah satu dari anak mereka dengan ikhlas bersedia dikorbankan. (Rosalita Eka Hidayati)

Hari yang ditunggu telah tiba. Keluarga Joko Seger pun menuju ke kawah Gunung Bromo serta membawa beraneka hasil bumi untuk sesajen. Salah satu anak dari Joko Seger yang dikorbankan pun telah siap dan akhirnya anak tersebut menerjunkan diri ke kawah Gunung Bromo tersebut.

Setelah janji Joko Seger dipenuhi, mereka akhirnya hidup bahagia di sekitar Gunung Bromo. Keturunan mereka sekarang bernama Suku Tengger, perpaduan nama antara Roro Anteng dan Joko Seger. Prosesi pengorbanan anak Joko Seger pun masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Pada bulan purnama tanggal 14 atau 15 bulan Kasodo menurut penanggalan Jawa, dilakukan upacara Kasodo, yang disana juga terdapat prosesi pelemparan sesajen ke kawah Gunung Bromo, sampai sekarang tradisi itu tetap berjalan dan dipegang teguh oleh Suku Tengger sendiri. (Faizal Ade Maulana)

LEAVE A REPLY