552abf396ea8341c488b4567Beritapasuruan.com, Setidaknya judul yang saya ambil ini (masih) belum lazim di Jepang. Pemandangan ini banyak saya lihat ketika saya dan keluarga mudik ke Tanah Air Tercinta, Indonesia dua tahun yang lalu. Tidak hanya di pusat perbelanjaan, restoran bahkan ketika kita berkumpul bersama di rumah salah seorang teman pun kita bisa melihat pemandangan unik ini. Mulut berbicara tapi mata tidak menatap lawan bicara. Iya, karena terlalu sibuk dengan telpon genggamnya masing-masing. Tidak terbayang kalau itu dilakukan di sini, walhasil kita akan dianggap tidak sopan dan tidak menghargai si lawan bicara, dan akhirnya dikucilkan dalam pergaulan. Sepertinya pemandangan ini sudah bukan hal yang aneh lagi di Indonesia, khususnya di Jakarta, karena saya melihat ada keluarga makan di restoran tapi hampir semuanya melakukan percakapan/ngobrol dengan mata menatap layar HP-nya masing-masing. Sibuk apa ya? Update status di FB, Nge-tweet, nge-WA, nge-LINE? Sepertinya kalau tidak eksis sedetik saja kok jadi masalah besar dan mengancam jiwa. Berhubungan dengan social media sama sekali tidak salah kok, kenapa salah? Aktif di jaringan sosial ini banyak juga nilai positifnya, kita bisa menjaga silaturahmi dengan sesama dan jadi tahu keadaaan sobat dan kerabat kita kapan pun. Tapi ya mbok yao, kalau kita lagi berbicara atau mengobrol dengan orang (bukan binatang), baik itu dengan anak kita, suami, orang tua, bahkan teman pun, diletakkan dulu telpon genggam di meja dan tataplah lawan bicara di depan kita.  Karena itu menandakan kita antusias dan menghargai pembicaraan si lawan bicara. Dan kalaupun ada telpon masuk atau pesan masuk, mintalah permisi untuk menjawabnya dengan segera. Bukan hal yang rumit saya pikir berlaku seperti itu,  saya lihat manner ini masih dijunjung tinggi di sini, walaupun dengan sesama teman, pada saat menjawab telpon yang mendadak bunyi atau menjawab pesan yang masuk, demi menjaga perasaan orang yang sedang berbicara, mereka meminta ijin terlebih dahulu untuk mengangkat telpon atau menjawab pesannya itu. Saya memang tidak gaul dan tidak mengerti apa yang sedang tren di Indonesia saat ini, tapi apakah tren ketak-ketik HP saat mengobrol sudah menjadi pemandangan yang lumrah dan lazim? Mungkin kalau ada 5 orang yang berkumpul, 2 orang sibuk dengan HP, lalu yang 3 orangnya antusias berbicara tanpa ketak-ketik HP, itu baru dikatakan ada ketidaknyamanan, karena mungkin 2 orang ini dianggap tidak menghargai para lawan bicaranya itu, tapi kalau semuanya, ke-5 orang itu juga melakukan ketak-ketik secara serempak, sepertinya kok ya bisa dikatakan, tidak ada yang dirugikan dan suasana juga terlihat nyaman-nyaman saja, tapi bagi yang tidak biasa melihatnya jadi pemandangan yang aneh dan unik sekali, apalagi kalau ternyata dari ke-5 orang tersebut saling bersahut-sahutan di medsoc juga, hihi kocak juga raga ada di dunia nyata tapi jiwa melayang di dunia maya. Kalau begitu kenapa harus kumpul bareng ya? Teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang pun bercerita, kalau pemandangan itu memang sudah biasa di Indonesia, hanya saja bagi temen-temen yang belum biasa, mungkin bingung sendiri sambil pegang jempol kaki tentu saja, apabila melihat sekumpulan orang yang sedang ngobrol tapi tidak tahu bicara ditujukan ke siapa, karena semua yang berbicara/ngobrol itu memandang ke bawah semua (HP). Mudah-mudahan saja anak-anak kecilnya tidak tertular dengan wabah ini, gawat juga kalau sampai mereka juga berbicara pada orang tua bahkan kakek-nenek tapi jari tangan sibuk berketak-ketik di HP-nya. Atau sudah banyak terjadi? Salam Hangat dari Jepang ( elmp Sumber : Kompasian

LEAVE A REPLY